Lomba Cerdas Cermat
Pagi ini adalah hari yang bersejarah bagiku. Karena hari ini, Aku, Adam, dan Rafa akan mengikuti Lomba Cerdas Cermat SD tingkat kecamatan. Kami diboncengkan oleh guru kami ke tempat lomba yang ada di desa sebelah. Tiga bulan sudah kami digembleng oleh semua guru yang ada di SD kami. Kami juga sering tidak mengikuti pelajaran karena harus mengerjakan soal latihan di ruang tamu sekolah. Kadang saat semua siswa tengah mengikuti pelajaran, kami malah nyolong-nyolong beli jajan. Dan kita bertiga membentuk geng di kelas, inisiatornya adalah Adam. Dia ga mau bergaul sama temen lain yang ga ikut LCC. Karena dia pikir kami lah yang paling pintar di kelas.
Setelah 15 menit berkendara, kami pun sampai di tempat lomba. Tempatnya sudah ramai, dan ruangan lomba dipenuhi oleh siswa dari sd tersebut yang penasaran.
"Pokoknya, kalian harus fokus! Inget apa yang udah dilatih kemarin." Pesan Pak Rudy wali kelas kami
"Ok, pak." Jawab Rafa dengan penuh semangat sambil mengacungkan jempol dan senyum merekah di bibirnya.
Babak demi babak kami lalui, dan akhirnya kami sampai di babak final. Ada 3 meja dengan bel dan lampu di masing-masing meja tersebut. Kami duduk di meja tengah bertuliskan grup 2, menghadap semua penonton. Selama 3 bulan terakhir Pak Rudy sudah membagi tugas untuk kami. Adam, tugasnya mengerjakan soal matematika dan berhitung. Rafa, mengerjakan soal Ilmu Pengetahuan Alam. Sedangkan aku mengerjakan Ilmu Pengetahuan Sosial, dll. Setiap hari kami dilatih mengerjakan soal dan tanya jawab.
Sesi pertama adalah sesi dimana juri membacakan pertanyaan untuk masing-masing regu. Dan kalau regu tersebut tidak bisa, maka akan dilempar ke regu lainnya. Dari 5 pertanyaan, kami bisa menjawab 3 dan yang lainnya dilempar ke grup lain. Sampai saat ini nilai kami saling mengejar dengan grup 3 dari SD Negeri 4 Kalibagor. Setelah sesi pertama selesai kami memasuki sesi pertanyaan rebutan. Adam sudah bersiap dengan kertas untuk berhitung. Dan mata kami fokus tertuju ke dewan juri. Saat soal dibacakan, kami bertiga refleks memencet bel. Saat memencet bel, tangan Adam berada di atas punggung tanganku. Dan saat itu juga, aku langsung refleks melihat genggaman tangannya. Tangannya yang putih, dan jari-jarinya yang panjang menggenggam hangat tanganku yang mulai dingin karena grogi. Aku menengok ke wajahnya yang sedang menjawab pertanyaan dari dewan juri sambil membacakan hasil perhitungannya. Seakan waktu berjalan lebih lambat, aku malah sibuk memandangi wajahnya, mengamati gerak bibirnya yang sedang menjawab pertanyaan juri, dan menelusuri setiap lekuk wajahnya dengan pandangan mataku. Alis tebal melengkung menghiasi wajahnya. Suara tepuk tangan penonton menyadarkanku dari lamunan ini.
"Jawaban benar nilai 100." Kata salah satu juri melalui pengeras suara.
Entah perasaan apa ini, tiba-tiba jantungku berdetak lebih kencang dan sejenak fikiranku jadi blank. Entah perasaan macam apa ini, aku belum pernah merasakannya sebelumnya. Pertanyaan berikutnya adalah soal IPS, dan jatahku yang menjawab. Saat pertanyaan dibacakan aku telat memencet bel dan pertanyaan pun berhasil di jawab oleh grup lain. Pak Rudy berusaha menyemangati kami dari bangku penonton. Poin kami seimbang dengan grup 3. Pertanyaan terakhir dibacakan dan kami langsung memencet bel, tapi jawaban kami salah dan nilai kami dikurangi. Grup 3 pun memenangkan lomba ini.
"Sial! Harusnya tuh tadi jawaban kita bener tau, jurinya aja yang bego!" Umpat Rafa sambil berjalan keluar dari kelas menuju ke parkiran. Dia menendang tong sampah yang ada di depan kelas, untung saja tempat sampah itu kosong. Kedua guruku berjalan di depan sendiri, di ikuti Adam dan Rafa di belakang mereka. Dan aku berjalan di belakang mereka. Aku sibuk memandangi tubuh tinggi Adam dari belakang, sambil berkata dalam hati 'perasaan macam apa ini?'. Aku memandangi tanganku yang tadi bersentuhan dengan Adam. Aku mencoba mengingat saat tangan itu menyentuh tangan itu. Sepanjang perlombaan berlangsung tangan kami saling bersentuhan dan durasinya bukan hanya beberapa detik tetapi hampir 1 menitan. Adam semakin terlihat putih saat terkena sinar matahari pagi. Aku yang sedang sibuk memandangi tubuh Adam dari belakang tiba-tiba disadarkan dengan teriakan Rafa.
"Dea ayo kita pulang!!! Kamu agak cepet dong jalannya!" Dia yang lebih dulu sampai parkiran meneriakiku dengan muka menyeramkan. Memang dari kita bertiga dialah yang terlihat paling kesal. Andai saat itu fikiranku tidak blank, mungkin kami bisa sampai di kabupaten.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar