Sabtu, 22 Juli 2017

Teman Sebangku


Setelah kita bertiga ikut Lomba Cerdas Cermat, suasana di kelas agak berbeda. Rafa, dan Adam ga mau main kecuali sama aku. Hal itu membuat beberapa anak kompleks menjadi bertanya-tanya, contohnya Andi 

"De, kenapa sih Rafa sama Adam kalo di sekolah ga mau main sama kita lagi? Padahal kan tadi sore masih sepedaan bareng?" Tanya dia heran

"Aku ga tau, An. Coba kamu tanya sendiri." Aku juga ga tau kenapa sikap mereka bisa berubah kaya gitu. Mungkin mereka merasa merekalah yang paling pintar di kelas saat ini. 

Pagi ini adalah minggu pertama di bulan Maret, dimana pada minggu pertama kita harus diacak tempat duduknya. Aku datang paling awal untuk memastikan dengan siapa aku duduk hari ini. Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya dateng juga teman sebangku ku. Namanya Bela, kita sering main bareng kalo di luar sekolahan. Rumahnya emang jauh dari rumahku, tapi kita sering janjian buat sepedaan bareng atau ke kali bareng. Bela dan aku adalah anak kampung, ga kaya Rafa, Adam, dll yang tinggalnya di perumahan. 

"Yee, aku duduk sama Dea hari ini." Kata dia sambil berjalan mendekati aku yang lagi duduk dibangku.

"Yeee aku juga seneng duduk sama kamu hari ini, soalnya aku terhindar dari siksaan duduk sama anak nakal." Kataku sambil ketawa.

Di kelasku, siswanya tuh banyak banget. Ada 49 siswa, yang sebenernya terbagi jadi kelas A dan B. Tapi, karena kekurangan ruang kelas jadinya semuanya digabung dalam 1 ruangan. Ga kebayang kan betapa kacaunya kelas ini. Di kelas ini kemampuam siswanya rata, maksudnya ada yang pinter, ada yang sedeng-sedeng aja, dan ada yang bodonya kebangetan. Di kelas ini juga terdapat beberapa anak nakal, dan aku sebel banget kalo duduk sama mereka, soalnya dinakalin terus.

Bel sekolah berdering kencang, menandakan jam pertama sudah dimulai. Beberapa anak yang terlambat datang berlarian menuju kelas sebelum pintu kelas ditutup. Salah satu dari siswa tersebut adalah Adam, dia tergopoh berjalan menuju kelas. Sesampainya di kelas, dia langsung berhenti di bangku ku. 

"De, kamu duduk sama siapa?" Tanya dia sambil jelalatan nyari bangku yang masih kosong

"Sama Bela lah!" Jawabku sinis

"Aku duduk dimana ya?" 

"Ya ga tau, coba aja cari bangku yang kosong"

Dia berjalan ke arah belakang kelas, dan dia menemukan bangku kosong tepat berada di belakangku. Salah satu sisi bangku itu udah diduduki sama seorang siswa yang mana Adam tuh sebel sama dia, soalnya dia sok cantik dan centilya luar biasa, namanya Cantika. 

"Huss sanah kamu geser, ga usah deket-deket aku duduknya!" Bentak Adam ke Cantika sambil mengerutkan dahi. 

Selama pelajaran berlangsung muka Adam bener-bener kecut, dia cemberut terus. Aku dan Bela meledeki dia sepanjang pelajaran sambil ketawa cekikikan.

Pelajaran pertama selesai, jam istirahat pun berbunyi. Saat istirahat, Adam ga keluar kelas sama sekali. 

"Kamu kok ga jajan, Dam? Kenapa?" Tanyaku heran

"Lagi ga pengin." Jawab dia dengan muka masam sambil memegangi tasnya. 

Aku keluar ke halaman sekolah, dan beli jajan sepuasnya. Aku dan teman-temanku main lari-larian di halaman sekolah. Bel sekolah kembali berdering menandakan kita harus masuk kelas lagi. Sesampainya di kelas, aku sama Bela kaget. Tiba-tiba Adam duduk dibangkuku, dan tasnya Bela udah pindah ke bangkunya dia.

"Loh dam, kamu kok duduk disini?" Tanyaku heran

"Iya, emang kenapa?" Jawab dia santai

"Tapi kan ini bangkuku!" Bela menyambar kaya petir disiang bolong

"Tasmu udah aku pindahin ke belakang tuh. Kamu duduk sama Cantika yah, aku duduk sama Dea" Jawab dia dengan santai.

Akhirnya daripada ribut, Bela memilih duduk sama Cantika.

"Dam, kamu kok gitu sih sama Bela! Kasian tahu! Kan Bela duluan yang berangkat, kamu kan berangkatnya telat! Tapi kamu malah ngerebut bangkunya dia." Aku mencoba menasihati Adam, meskipun aku tahu itu ga bakal ngerubah keadaan. Karena memang, Adam tuh sukanya seenakna sendiri, seolah-olah dunia ini cuma miliknya dia.

"Ya abis gimana? Aku kan ga suka duduk sama Cantika." Jawab dia santai

"Tapi kan, dam. Peraturan ini udah jadi kesepakatan bersama antara kita sama Pak Rudy." Aku mencoba menjelaskan

"Pokoknya kelas 5 semester ini aku maunya duduk sama kamu. Titik. Ga mau sama yang lain. Ga peduli temen-temen mau ngomong apa, biarin aja."

Akhirnya 1 semester ini aku habiskan dengan duduk bareng Adam. Dan kita seolah terisolasi dari dunia luar, karena kita punya dunia sendiri yang tak dimengerti orang lain. Sebenernya sih aku seneng bisa duduk bareng Adam terus, tapi aku kasian juga sama temen-temen yang harusnya duduk sama aku atau Adam karena pasti tasnya langsung dipindahin sama dia. Jahat banget sumpah si Adam. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar