Kamis, 06 Juli 2017

Memilih Jurusan (part 1)


Hello guys, 

Kali ini aku mau cerita tentang pengalamanku memilih jurusan. Mungkin sebagaian dari kalian yang duduk di bangku kelas 12 bingung mau milih jurusan apa. Karena kata orang-orang salah memilih jurusan sangat berpengaruh terhadap masa depan kalian.

Pada waktu itu, aku masih duduk di bangku kelas 12 SMA dan tengah disibukan dengan persiapan tryout ini itu, mulai dari tryout sekolahan, bimbel, sampai PTN ternama. Hari-hariku semakin berat ketika guru BK datang ke kelas dan mengumumkan kalo pendaftaran SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) udah dibuka, dan setiap siswa disuruh ngisi angket buat data sekolahan. Jadi, satu kelas dikasih kertas yang isinya kita harus nulisin nama kita dan disebelahnya ada kolom pilihan 1-3 yang harus kita pilih. Nah pada saat itu aku ngisi pilihannya adalah pilihan pertama Teknik Sipil Undip, pilihan ke dua Teknik Sipil UNS dan terakhir Pendidikan Seni Musik Unnes. 

Kenapa aku kepengin banget masuk Teknik Sipil? Karena pada saat itu aku mikirnya infrastruktur di Indonesia ini kan masih jelek dan mungkin memerlukan lebih banyak para teknisi untuk mempercepat pembangunan (halah, ngomong opo to). 

Pulang sekolah aku bilang ke ibuku apa yang terjadi di sekolah dan dia tanya

"Emang kuliahnya anak teknik sipil itu ngapain?" 

"Ya nggambar lah bu, sama ngitung-ngitung." 

"Emang kamu bisa nggambar? Wong gambar kamu aja jelek." Tanya ibuku dengan nada mengejek

Aku cuma bisa diem sambil mikir mau jawab apa, tapi ga ketemu-ketemu dan ibuku mulai ngomong lagi.

"Udah kamu mendingan daftar Seni Musik aja, yang jelas-jelas kamu bisa dan ada bakat disitu."

"Tapi kan bu, jadi anak teknik lebih berkelas dari pada jadi anak musik."

"Ya iya sih, tapi gimana kalo nanti ditengah jalan kamu ga bisa ngikutin kuliahnya dan kamu malah stress. Coba kamu cari info lagi sanah tanya kakak kelas."

Beberapa hari berlalu aku mulai mencari info tentang jurusan kuliah. Aku mulai galau, bimbang, dan bingung harus ngapain. 

"Eh de, kamu jadinya daftar apa?" Tanya Vena, temen gerejaku yang 1 tahun lebih tua dari aku. Dan sekarang dia jadi mahasiswa UGM. 

"Ga tau nih, ven. Aku masih bingung."

"Lah kamu minatnya kemana?" Tanya vena 

"Aku sih penginnya masuk teknik sipil."

"Teknik sipil mana de rencananya?" Tanya Vena mencoba membantu.

"Penginnya sih UGM, ven. Tapi kayanya ketinggian, susah juga masuknya. Kalo ga UNDIP aja lah."

"Iya sih, kamu anak IPA sih ya. Aku punya temen anak teknik sipil nih, de siapa tau kamu mau nanya-nanya ke dia." 

Keesokan harinya aku dikasih pin bb, dan Vena nyuruh temennya nge-acc.

'Hai ka, ini Dea temennya Vena. Sorry ganggu nih, mau tanya-tanya boleh ga?' Aku mulai nge-bbm dia

'Oh iya de salam kenal, aku Angga. Oiya silahkan aja kalo mau tanya-tanya' jawab dia singkat

Akhirnya aku mulai tanya-tanya ba bi bu be bo. Tiap hari kerjaannya nanya terus, kadang kasian sama masnya takutnya lelah menjawab pertanyaan calon adek maba ini. Sampai suatu ketika aku nanya dan aku memutuskan untuk ga masuk UGM. 

'Kakak dulu waktu masuk UGM nilai rata-ratanya berapa? Trus masuk paralel terus ga?' 

'Dulu rata-rataku sih cuma 92. Ga pernah masuk paralel sih, paling ranking kelas itu pun kadang-kadang' 

Busett rata-rata 92, dia bilang cuma??? Di SMA ku itu udah terbilang bagus ya. Dan rata-rataku cuma 86 koma sekian. Aku memutuskan untuk mundur teratur dan memendam impianku dalam-dalam.

Beberapa hari kemudian aku ga nge-bbm dia lagi, soalnya sudah puas dengan jawabannya. Dan kesimpulannya aku ga mau masul situ karena berat.

"Gimana de, udah nanya-nanya ke Angga?" Tanya Vena

"Udah sih, trus gimana jadinya?" Tanya Vena penasaran

"Yah Ven, kayanya berat deh. Soalnya temenmu itu rata-ratanya 92, sedangkan aku cuma 86. Itu jauh, Ven." Jawab aku dengan nada memelas, karena ga tau mau ngapain lagi. 

"Lah trus kedepannya kamu mau gimana, de?" Tanya Vena kasihan

Aku tau temenku yang satu ini emang baik, dan dia orangnya ga tegaan. Jadinya dia rela ngelakuin apa aja (mungkin) demi membantu temannya. Aku juga salut sama dia, sampe mintain kontak temennya yang anak sipil (padahal dia bukan anak sipil) ke aku. 

Bersambung ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar