Kamis, 27 Juli 2017

Ngeledekin Adam


Hari ini adalah hari rabu, dan pelajaran pertama hari ini adalah olahraga. Kami anak kelas 3 berjalan bersama menuju lapangan yang berada di dekat perumahannya Adam. Saat diperjalanan aku ngeledekin Adam terus.

"Dam, kamu suka sama Devina ya?" Tanyaku dengan muka menggoda.

"Engga, sotoy banget sih kamu!" Jawab dia sedikit marah.

"Halah ngaku aja, kemarin waktu pelajaran matematika aja kamu liatin dia terus." Aku menggoda Adam lagi, kali ini Adam benar-benar marah dan dia berjalan menjauhiku. Aku malah semakin menjadi-jadi bukannya minta maaf, aku malah neriakin dia.

"WOY TEMEN-TEMEN, ADAM SUKA SAMA DEVINA!!!" Teriaku dengan kencang sampe orang yang ada di barisan paling depan pun bisa mendengarnya, padahal aku berada di barisan paling belakang.

Sontak mereka langsung kaget, dan secara kompak ngeledekin Adam.

"Cieeeee...." kata mereka bersamaan dengan muka menggoda.

"Jadi beneran nih, dam. Kamu suka sama Devina?" Fahmi mencoba menggodanya.

"Apaan sih, itu tuh ga bener tau!" Jawab dia dengan marah.

Sesampainya di lapangan kita langsung disuruh baris, dan melakukan pemanasan.

"Pelajaran hari adalah bola kasti bagi yang putri dan sepakbola bagi yang putra. Silahkan kalian membagi tim sendiri." Kata Bu Mawar guru Penjaskes kami.

Kami sekelas hompimpah, yang menang masuk timku dan yang kalah masuk timnya Gendis. Aku dan Devina satu tim dan disela-sela permainan dia ngajak aku ngobrol.

"Kamu tuh tadi ngapain sih, de? Bikin malu aja." Tanya Devina heran sama kelakuanku.

"Ga papa, iseng aja haha."

"Eh tapi aku beneran suka sama Adam tau, aku kan jadi malu." Kata dia sambil tersipu malu.

Seketika aku langsung terdiam membisu seribu bahasa. 'Jadi, Devina beneran suka sama Adam?' Tanyaku dalam hati.

"Kok kamu bisa sih suka sama Adam?" Tanyaku heran.

"Dia kan pinter, selalu dapet ranking dan kalo ulangan matematika pasti nilainya tertinggi. Dia juga ganteng tau." Jawab dia sambil memandang Adam yang sedang duduk di tepi lapangan.

"Tapi kan dia kali jalan kaya cewe, Dev. Pantatnya megal-megol kaya entok. Bahkan cewe aja kalah sama dia." Aku mencoba menjelaskan.

"Ga papa, yang penting mamahnya punya warung jadinya jajannya banyak. Setiap aku beli di tempat Adam selalu dikasih bonus sama mamahnya."

Aku cuma diam mendengarkan cerita Devina yang seolah-olah membanggakan Adam, dan Adam ga ada cela dimatanya. Mungkin itulah yang namanya jatuh cinta, mata ga bisa melihat dengan jelas, cuma hati yang bicara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar