Pertemuan Singkat
Jemaat gereja mengantri untuk mengambil makanan yang dihidangkan. Makanan tersebut dimasak oleh ibu" gereja, termasuk tanteku. Aku dan tanteku mencari tempat duduk, sementara sepupu dan omku berada di luar bersama dia dan papahnya. Tanteku asik mengobrol dengan orang yang ada disekitarnya, sesekali ada orang yang menanyaiku untuk sekedar basa-basi. Aku pun menyantap hidangan yang disajikan. Sambil makan aku melihat ke arah luar, dan melihat dia sedang makan sambil berdiri. Beberapa kali dia masuk ke aula untuk mengambil makanan yang lain. Aku pun sibuk mengamati gerak-geriknya. Sewaktu aku mau mengambil makanan yang lain, aku berpapasan dengan papahnya, dan aku baru tahu kalo jam tangan yang dipake dia kembar sama papahnya. Aku yang sedang makan bertanya kepada tanteku "Te, dia tuh kuliah dimana sih?" Tanteku menjawab "Kalo ga salah sih di Solo, tapi ga tau di univ mana."
Selesai makan kami pun beranjak pergi menghampiri om dan sepupuku. Ternyata diluar mereka ngumpul dan duduk bareng, dia, om, sepupu, dan papah mamahnya. Mamahnya menyapa tanteku, dan papahnya sibuk ngobrol dengan omku. Dan dia berdiri disamping mamahnya. Mamahnya terlihat sangat pendek ketika berdiri disampingnya, ya mungkin dia yang terlalu tinggi kali. "Zayn, kamu kuliah dimana? Itu tadi ditanyain sama Dea katanya dia malu mau tanya sendiri." Dia yang tadinya lagi menatap ke sekitar, seketika langsung memfokuskan pandangan ke arahku dan menjawab dengan suaranya yang berat "UNS" jawabnya singkat. Setelah itu dia menatapku dari ujung kaki sampai ujung kepala. Seolah-olah dia robot wall-e yang sedang menscan benda asing yang baru pernah dia lihat. Dandananku yang acak-acakan dan bentuk tubuhku yang tidak ideal sama sekali jelas saja terasa aneh baginya yang terlihat sempurna. Aku yang kaget dengan pertanyaan tanteku hanya bisa tertunduk malu tanpa bisa mengucapkan sepatah kata. Dalam hatiku berkata "kenapa harus ngomong kaya gitu sih?" Malu banget rasanya pengin banget kabur dari keadaan ini. Beberapa saat kemudian datang teman tanteku dan menyapa kami. Setelah itu tanteku memanggil omku untuk pulang.
Sesampainya di rumah aku lompat" sendiri di dalam kamar sambil senyum" sendirj kaya orang gila. Aku ga bisa ngelupain kejadian tadi, dan masih kebayang" terus. Kenapa aku melakukan hal bodoh lagi? kenapa aku ga salaman sama dia? Kenapa aku ga ngajak ngobrol dia? KENAPA....??? Terlalu banyak pertanyaan di dalam kepalaku. Andai saja aku tadi salaman sama dia pasti aku bisa merasakan sentuhan kulit telapak tangannya, dan aku akan ingat selalu bagaimana rasanya. Andai aja tadi aku ngajak dia ngobrol pasti suasananya lebih baik, padahal dia udah menatapku dan matanya seolah berkata "kamu mau tanya apa lagi?" Tapi entah kenapa aku lemah dihadapannya, bibir ini mendadak susah untuk digerakan, dan kaki ini rasanya ingin segera melangkah pergi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar